Akhir-akhir ini mentari selalu
bersembunyi di balik awan yang sangat tidak cerah. Hujan deraspun mengguyur
kota tua itu. Di salah satu sisi kota, Febby terduduk dan tertunduk lemas di
bawah guyuran hujan deras sambil menangis kencang.
“Apa lagi
yang harus aku perbuat, karirku hancur, hidupku kacau, aku benci dengan keadaan
ini!!!!” pecah tangisnya ditengah guyuran hujan yang deras
Tiba-tiba
saja ada sesosok pria memanyungi Febby saat itu.
“hahahha,
jaman kayak gini masih ada pikiran cewek yang sekuno kamu, udah ayo berdiri”
sambil memaksa Febby untuk menepi ke pinggir jalan
“udah sana
pergi, bukan urusan kamu!!!” jawab ketus Febby sambil meronta-ronta melepaskan
pegangan kencang di lengan febby
“gak usah tarik-tarik aku, Sok jadi pahlawan!”
dengan marah dan emosi berusaha menghindar dari pria itu.
“kamu gila?
Kalo mau mati jangan kayak gini caranya. Nyusahin orang tau. Kalo ditabrak
orang gimana? Kalo mau mati di rumah aja pake racun serangga, pake pisau, atau
apalah...” ucap pria itu dengan emosi, maksudnya biar Febby gak berbuat yang
aneh-aneh lagi
“kamu nyuruh
aku mati?” tanya Febby keras
“lho jadi
kamu tadi di tengah jalan ngapain kalo bukan bunuh diri?” pria itu balik
bertanya
Febbypun tersadar,
kalau perbuatan dia tadi hampir mencelakai dirinya sendiri. Febbypun menangis
dan menangis lagi
Pria itu
tiba-tiba langsung berhadapan dengan Febby dan memegang kedua pundak Febby.
“liat mata
aku, ayo liat !!! aku emang gak tau kamu siapa dan gak pernah kenal ataupun
ketemu kamu sebelumnya. Tapi aku juga manusia, aku juga punya problem tapi
pikiran aku gak sependek kamu. Okelah, kenalin aku Rendy, kalo kamu butuh temen
cerita aku bisa kok. Tapi kamu jangan kek tadi lagi, bisa mati konyol kamu.
Hidup ini indah kalo kamu nikmatin, tapi kalo kamu bawa susah ya ikut susah
hidup kamu. Ini kartu nama aku, kalo kamu butuh temen cerita atau ada apa-apa
hubungi aja aku” Seketika itu juga Rendy melepas jasnya dan memasangkannya ke
Febby, dan Rendypun langsung berbalik hendak pulang.
Tiba-tiba
saja Febby langsung berucap
“hidupku
kacau, aku dipecat gara-gara kesalahan yang gak sama sekali aku perbuat”
Tangisan Febbypun tambah hebat
Seketika itu
Rendy langsung mengarah ke arah Febby lagi
“udah jangan
nangis!!! Hahaha kamu itu lucu ya, dipecat aja sampe mau gila gini. Sebaiknya
kalo mau cerita kita pindah tempat aja, gak enak tau diliatin orang,mana kamu
nangis kenceng bener, disangka aku macem-macemin kamu lagi” kata Rendy
“antarin aku
pulang” ucap Febby lemas
“mmm,
okelah. Ayo masuk ke mobil aku” jawab singkat Rendy
Selama di
perjalanan menuju rumah Febby, Febbypun menceritakan semua masalah yang tengah
dihadapinya saat itu.
“Coba deh
kamu liat kartu nama yang aku kasih tadi” ucap Rendy
Sembari
Febby melihat kartu nama Rendy, Rendy langsung berbicara
“Aku manager
di perusahaan tempatku bekerja, coba aja kamu ngelamar kerja di tempat aku, aku
usahain deh biar kamu keterima”
“Makasih
banyak ya, kamu udah repot-repot bantuin aku eh malah sekarang kamu nawarin
kerjaan” jawab Febby dengan senyum manisnya
Akhirnya
merekapun berpisah di depan rumah Febby.
*****
Siang akhirnya berganti dengan
malam, awan-awanpun diperindah oleh bulan dan bintang-bintang di sekelilingnya.
Febby yang saat itu sedang mengamati langit dari jendela kamarnya.
“hahaha,
lucu juga ya tuh cowok, aaagggghhhh kok aku jadi kebayang muka dia terus ya
dari tadi, ganteng juga sih” Febby tersenyum-senyum
“sms,
enggak, sms, enggak,sms, huh tapi kan malu kalo tiba-tiba aku sms dia, ihhhh
udah deh Febby ayo dong gak usah mikirin
dia. Apa jangan-jangan gue ini..... agghhh oh no inget Febby dia itu baru kamu
kenal” Ternyata hati Febby menyadari kalau dia tengah suka sama Rendy. Akhirnya
dia palingkan pikirannya dengan menyiapkan berkas-berkas lamaran kerja untuk
menyerahkannya di kantor Rendy.
Di kejauhan sama, ternyata Rendy gak
kalah gelisahnya dengan Febby. Rendypun
ternyata telah terpesona dengan sikap konyolnya Febby
“ih goblok
bener sih aku, coba aku minta nomor hp dia tadi, gak ngasih kartu nama aja. Kan
aku gak harus pusing-pusing gini sekarang kalo ada nomor hp dia”
*****
Keesokan harinya Febby dengan
optimisnya melamar kerjaan di kantor tempat Rendy bekerja. Tapi tak di
sangka-sangka Rendy melihat Febby yang tengah mengajukan surat lamaran kerja.
Rendy bukan menghampiri Febby, tapi dia langsung menghubungi staf yang
mengurusi lowongan kerja dan lamaran kerja di perusahaan itu.
“Selamat
siang pak, ada yang bisa saya bantu?” kata staf tersebut
“Siang, Fer
tadi saya liat ada wanita yang ngelamar kerja ya. Tolong langsung terima saja,
jadiin dia sekretaris pribadi saya. Sekretaris pribadi saya yang lama kan udah
mengundurkan diri pekan lalu” jelas Rendy
Dan mulai saat itu Febby ternyata
resmi menjadi sekretaris pribadi Rendy. Saat Febby memasuki ruangan Rendy, betapa
terkejutnya Febby kalau ternyata dia menjadi sekretaris pribadinya Rendy.
“kamu?” kata
Febby aneh
“Iya.
Selamat bekerja di kantor ini, semoga kamu betah ya” jawab Rendy dengan
senyuman yang semringah
*****
Akhirnya, semenjak itu frekuensi
pertemuan Febby dan Rendy bisa dikatakan sangat sering. Dan semenjak itu,
hubungan mereka semakin dekat, bak bulan dengan bintang. Hari-hari mereka
selalu dihiasi dengan kehangantan dan ditambah dengan romansa keromantisan Rendy
kepada Febby. Mulai dari kejutan-kejutan sederhana yang selalu ia berikan
kepada Febby setiap hari, kehangatan, kasih sayang, bahkan pengorbanan yang
selalu Rendy berikan kepada Febby.
Hingga suatu malam, Rendy mengajak
Febby kesuatu tempat.
“kita mau kemana?”
tanya Febby
“udah ngikut
aja, aku mau ke tempat yang pastinya kamu suka” jawab Rendy
Saat mereka
telah sampai ke tempat tujuan, Rendypun langsung menutup kedua mata Febby
dengan tangannya
“kok ditutup
mata aku?” tanya Febby
“gak suprise
dong kalo gak ditutup matanya” jawab Rendy sambil tersenyum
“Aku itung
sampe tiga ya baru aku bukain mata kamu. Satu,,, dua,,, tiiiiiiiggaaa,,,,” kata
Fendy bersemangat
“waw, indah
banget. Makasih ya Ren, aku suka banget, kamu yang nyiapin semua ini?” tanya
Febby penasaran
“iya dong”
jawab Rendy sambil membanggakan dirinya
Ternyata Rendy mengajak Febby ke tepi pantai, yang di sana
telah Rendy siapkan tempat makan yang sangat romantis dengan dihiasi
lampu-lampu dan lampu dengan tulisan I LOVE U di pasir tepat di depan meja makan
mereka. Yang menambahkan keromantisan saat itu, Rendy telah menyewa pemusik
klasik untuk mengiringi kehangatan mereka malam itu.
Saat mereka
tengah asyik-asyiknya menikmati santapan makan malam
“Febby?” panggil Rendy pelan
“iya” jawab
Febby dan Febbypun langsung memokuskan kearah Rendy
“mmm,
seperti yang aku katakan dulu. Aku gak ingin mengucapkan beribu-ribu kata
sayang kalo itu gak ada artinya, aku cuman ingin mengucapkan kalimat qabul dan
janji nikah untukmu” kata Rendy serius
Seketika itu
juga Rendy beranjak dari tempat duduk, dan duduk di pasir sambil berhadapan
dengan Febby yang tengah duduk di kursi.
“Febbyku
sayang, aku yakin kamu telah tau keseriusan aku. Jadi, apakah kamu bersedia
menikah dan menjadi makmumku sayang?” kata Rendy sambil ia menunjukkan cincin
kehadapan Febby
Seketika itu
pula batin Febby gemetar. Ia tak menyangka kalau bisa secepat itu. Febby
bingung bukan main saat itu. Dan tanpa ia prediksi ia mengeluarkan kalimat
“aku belum
siap”
“apa lagi
yang kamu tunggu? Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu, suami yang
memberikan kebahagiaan sepenuhnya untukmu” Rendy berusaha meyakinkan
“Maafkan
aku, tapi ini terlalu cepat. Maaf aku gak bisa” kata Febby ragu
Febbypun
langsung beranjak dari tempat duduknya, dan ia berlari kencang menjauh dari
Rendy. Iapun langsung naik taksi untuk pulang. Selama diperjalanan Febby terus
saja menangis. Ia bingung dengan semuanya yang ia anggap terlalu cepat, tapi
disisi lain ia tidak bisa berbohong kalau ia sangat dan amat mencintai Rendy.
Di tempat lain Rendy masih terdiam di tepi pantai. Ia masih
tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Febby. Ia kesal, marah dan
kecewa bukan main.
Sesampainya di rumah, Febby langsung
berbaring di kasurnya. Ia terus saja menangis dan menangis. Hingga pada
akhirnya ia menyadari bahwa yang ia lakukan adalah kesalahan yang sangat fatal.
Tapi tetap batin ia selalu bertanya-tanya ‘apakah Rendy benar tulus atau
mengharapkan budinya terbalas?’ tapi saat Febby mengeluarkan semua foto dan
kenangan bersama Rendy, ia baru sadar kalau Rendy benar tulus mencintai dia.
Mungkin karena Febby terlalu letih menangis, akhirnya ia pingsan di kamarnya.
Dan tak seorangpun tau kalau Febby pingsan.
*****
Keesokan harinya saat di kantor.
Febby langsung menemui Rendy.
“Ren aku mau
....” belum selesai Febby berbicara, Rendy langsung menyambar omongan Febby
“nanti siang
kita ada meeting, siapkan semua berkas-berkas” Rendy berbicara dengan ketusnya
dan tak mau menoleh ke arah Febby
Tapi Febby
tak menghiraukan semua itu
“aku tau aku
telah berbuat kesalahan yang sangat fatal. Maafkan aku Ren maaf” Febby langsung
memegang lengan Rendy
“aku mau
...” saat Febby belum selesai berkata, Rendy langsung melepaskan tangan Febby
dengan kasar dan mendorongnya ke lantai.
“udahlah,
anggap aja kita gak pernah deket dan inget hubungan kita sebatas pekerjaan, gak
lebih !!!” jawab Rendy sambil berjalan keluar ruangannya
Tapi dilain
sisi Febby tengah meledak-ledak menangis dan merasakan pusing yang amat sangat
di kepalanya saat itu. Hingga akhirnya lagi-lagi ia pingsan tanpa sepengetahuan
Rendy.
Hingga beberapa hari kemudian Febby
memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Semenjak itu, ia tidak pernah
sama sekali bertemu dengan Rendy lagi.
*****
Satu bulan kemudian. Tiba-tiba saja
Rendy dan Serly yang tidak lain dan
tidak bukan adalah sepupu Febby sendiri ke rumah Febby.
“ini
undangan pertunangan kami” kata Rendy membuka pembicaraan
Febby yang
tengah lemas menjadi tambah lemas mendengar perkataan Rendy saat itu.
“mmm, oh ya.
mmm Serly udah cerita banyak kok soal
kalian mau tunangan, selamat ya. aku usahain dateng ke acara kalian” jawab
Febby yang berusaha memberikan senyuman pada Rendy dan sepupunya itu.
Saat Rendy
dan Serly pulang. Ia langsung terduduk di belakang pintu dengan kacaunya. Ia
menangis dan menangis menggelegar. Ia tak menyangka kalau Rendy begitu cepat
bisa melupakan dia dan bertunangan dengan sepupu Febby sendiri.
Sakit kepala
yang ia derita kembali mencuat. Sehingga ia tidak tahan dengan sakitnya dan
lagi-lagi ia pingsan.
*****
Hari ini adalah hari pertunangan
Rendy dan sepupunya. Akhirnya Febbypun menguatkan diri untuk hadir di acara
yang amat menyakitkan baginya itu.
Saat Rendy
tengah memasangkan cincin di jari manis sepupunya Febby itu.
Disudut sisi
ruangan Febby tiba-tiba saja menangis. Rasanya ia sangat-sangat tidak rela
kalau Rendy berdampingan dengan wanita lain dan memasangkan cincin yang tidak
lain adalah cincin yang tidak jadi Rendy berikan saat Febby menolak
pinangannya. Febby terus bertahan menahan rasa sakit, hingga ia merasa
benar-benar tidak kuat akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
*****
Beberapa hari kemudian tiba-tiba
saja teman lama Rendy menemuinya di kantor.
“Hai bro,
gimana pentunanganmu kemaren, lancar? Maaf ya aku gak bisa dateng, lagi diluar
kota soalnya” kata teman lama Rendy
“yoi, gak
papa. Ya lancar lah” jawab Rendy cuek
“aku tau
kamu masih menyimpan segenggap cinta dan harapan buat Febby” kata teman Febby
serius
“udah gak
usah bawa-bawa dia!!” jawab Rendy ketus
“ya ya
Sorry. Aku ke sini cuman mau ngasiin nih surat, sorry baru sempet aku ke sini”
kata teman Rendy sambil membanting surat yang terbungkus oleh amplop biru itu
ke meja.
“ya udah aku
balik ya. terserah deh mau kamu baca atau enggak. Tapi kalau ada apa-apa telpon
aku aja” kata teman Rendy lagi sambil berbalik hendak pulang
Saat teman Rendy telah pulang. Rendy
masih terbujur kaku melihat surat yang terbungkus amplop biru yang masih sangat
rapih itu di mejanya. Hingga pada akhirnya rasa penasarannyapun meledak dan ia
putuskan untuk membaca surat itu.
Teruntuk
Orang
yang amat kucintai, Rendy
Aku
rindu dirimu, aku rindu kehangatanmu, aku rindu matamu yang sungguh meneduhkan
hatiku, dan aku rindu saat-saat bersama denganmu.
Tapi sekarang kau dengan angkuhnya
tak ingin lagi menoleh kearahku, dan dengan egomu aku tak diizinkan untuk
berbicara sepatah katapun.
Mungkin ini memang salahku. Dulu aku
dengan mudahnya menolak pinangan darimu. Tapi apakah kau tau alasan utamaku
mengatakan ‘aku belum siap’ karena aku masih meragukan cintamu.
Memang konyol kelihatannya, dengan
pengorbananmu yang banyak dan amat besar, tapi aku masih meragukanmu. Tapi
jujur, saat itu hatiku berkata ‘apakah kau tulus atau meminta balasan budimu’.
Tapi ternyata aku memang bodoh, aku tak menyadari kalau kau sangat mencintaiku.
Tapi kau tau saat-saat aku menyadari
kesalahanku, dan ingin menjelaskan semua padamu. Sikapmu malah berubah dingin
padaku. Setiap kali aku ingin berkata selalu kau patahkan dengan kalimat yang
amat mengecewakanku.
Dan kau tau aku sangat ingin
menjelaskan kebodohanku yang telah aku perbuat dulu, dan aku sangat ingin
berbicara hal penting tentang keadaanku saat itu.
Apakah kau menyadari tubuhku kian
hari kian mengurus, dan apakah kau menyadari wajahku tidak cerah secerah
bersamamu dulu malah pucat pasi yang sangat tidak enak dipandang? Dan ternyata
dengan kejamnya aku divonis dokter mengidap penyakit ‘kanker otak stadium 3’
Tapi aku berusaha kuat menahan
keganasan penyakitku ini karena ingin merebut kembali cintamu, aku tak ingin
dirawat di rumah sakit karena aku takut kau akan cemas dengan keadaanku.
Tapi disaat aku benar-benar merasa
sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhku, malah aku menerima undangan
pertunanganmu dengan sepupuku sendiri.
Kau tau? Saat itu juga aku berdoa
agar nyawaku ini cepat diambil.
Dan kau tau saat aku melihat kau
bertukar cincin dengan wanita yang jelas-jelas itu bukan aku, aku cemburu bukan
main, rasanya aku tidak rela kau memasangkan cincin di jari manis wanita itu.
Dan mungkin saat kau membaca surat
ini, aku sedang meregang nyawa atau mungkin telah kembali ke hadapan sang Maha
Kuasa.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa
cita-cita terbesarku bukan mengejar karir atau harta tapi cita-cita terbesarku
menjadi makmum disetiap sujudmu sayang. Tapi malah Tuhan berkehendak lain
dengan takdirku.
Jadi, aku titip pesan
Jangan sesali perbuatanmu, karena
mungkin memang kita tidak ditakdirkan berjodoh di dunia ini. Dan aku titip
sepupuku. Jangan sekali-kali kau kecewakan dia seperti kau mengecewakanku dulu.
Jaga dia baik-baik dan berikan cintamu yang utuh seperti kau memberi cintamu
padaku dulu.
Dari
orang yang sangat mencintaimu
Febby
Saat itu juga tangisan Rendy
meledak-ledak dan menyesali perbuatannya itu. Iapun langsung menelpon teman
lamanya tadi
“dimana Febby?”
Rendy langsung bertanya
“dia di
rumah sakit umum, ruang ICU” kata temannya
Lalu dengan tergesa-gesa
Rendy langsung menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih.
*****
Sesampainya di rumah sakit,
Rendy langsung berlari keruang dimana
Febby dirawat. Saat Rendy melihat keadaan Febby yang sangat memprihatinkan dan
dengan bantuan alat-alat medis yang telah terpasang di tubuh Febby. Dan
keluarga Febbypun telah berkumpul di ruangan tersebut termasuk sepupunya Febby
‘Serly’. Rendy saat itu juga terpaku dan sangat bersalah dengan semua yang
telah ia perbuat.
Rendy
memegang tangan Febby yang sangat lemah itu
“sayang,
maafin aku. Aku salah, aku bodoh, aku jahat sama kamu. Sayang bangun, ayo kasih
senyuman manismu itu kepadaku lagi” Kata Rendy sambil menggoyang-goyang tubuh
Febby
Saat Serly
melihat pemandangan yang amat memilukan itu, dia hanya bisa terdiam dan terbujur
kaku, karena dia memang tidak pernah tau kalau Febby dan Rendy saling
mencintai.
Rendy terus
dan terus menangis, hingga pada akhirnya Febbypun sadar
“Sayang,
kamu udah sadar? Sayang maafin aku” Rendy kembali menangis
Febby dengan
lemasnya berusaha memegang pipi Rendy
“kamu gak
salah, aku yang salah. Jadi aku memang pantas seperti ini. Tapi apakah aku
boleh meminta sesuatu untuk terakhir kalinya?” kata Febby lemas
“jangan kamu
ngomong kek gitu. Seratus bahkan beribu-ribu kalipun akan aku turuti semua
permintaan kamu sayang” kata Rendy
“Jika memang
aku tidak ditakdirkan berjodoh denganmu, aku titip Serly. Jadikan ia halal
untukmu agar Serly selalu menemani disetiap sujud panjangmu” ucap Febby lemas
sambil memegang tangan Serly. Sedangkan Serly hanya terdiam dan tidak percaya
dengan ucapan yang barusan keluar dari bibir mungil Febby
“dan jika
memang aku tidak ditakdirkan menjadi makmum di setiap ibadahmu. Izinkan aku
menjadi makmummu, kali ini saja.... ayo kita shalat” kata Febby
“sayanggggggg....
“ terasa sangat pedih Rendy mendengar kata-kata itu dari bibir mungil Febby
Merekapun
akhirnya shalat berjamaah. Rendy dengan tegapnya menjadi imam dan Febby dengan
lemahnya terbaring di kasur menjadi makmum. Sungguh sangat memilukan. Semua
keluarga Febby termasuk Serly melihat Febby dan Rendy shalat berjamaah, semua
menangis menyaksikannya. Saat Rendy dan Febby menunaikan ibadah, berdoa dan
berzikir panjang. Tanpa satu orangpun menyadari bahwa Febby telah pergi dengan
tenang menghadap Sang Pencipta.
Saat Rendy dan
semua keluarga Febby tau kalau Febby telah tiada semuanya hanyut dalam tangisan
yang mendalam.
“innalilahi
wainna ilaihi rojiun, kau adalah wanita terbaik yang pernah dipertemukan Tuhan
dalam hidupku” ucap Rendy sambil terus menangis
Hingga pada
akhirnya Rendy berusaha ikhlas menerima kepergian Febby dan berusaha menjalani
amanat untuk mencintai sepupu Febby seuntuhnya, dan menjadikan Serly halal
baginya sebagai bukti cinta tulusnya untuk Febby.
The End
