Jumat, 06 September 2013

Cerpen Cinta - Surat Biru Untukmu, Sayang (Karya : Della Stefhanie P R )



            Akhir-akhir ini mentari selalu bersembunyi di balik awan yang sangat tidak cerah. Hujan deraspun mengguyur kota tua itu. Di salah satu sisi kota, Febby terduduk dan tertunduk lemas di bawah guyuran hujan deras sambil menangis kencang.
“Apa lagi yang harus aku perbuat, karirku hancur, hidupku kacau, aku benci dengan keadaan ini!!!!” pecah tangisnya ditengah guyuran hujan yang deras
Tiba-tiba saja ada sesosok pria memanyungi Febby saat itu.
“hahahha, jaman kayak gini masih ada pikiran cewek yang sekuno kamu, udah ayo berdiri” sambil memaksa Febby untuk menepi ke pinggir jalan
“udah sana pergi, bukan urusan kamu!!!” jawab ketus Febby sambil meronta-ronta melepaskan pegangan kencang di lengan febby
 “gak usah tarik-tarik aku, Sok jadi pahlawan!” dengan marah dan emosi berusaha menghindar dari pria itu.
“kamu gila? Kalo mau mati jangan kayak gini caranya. Nyusahin orang tau. Kalo ditabrak orang gimana? Kalo mau mati di rumah aja pake racun serangga, pake pisau, atau apalah...” ucap pria itu dengan emosi, maksudnya biar Febby gak berbuat yang aneh-aneh lagi
“kamu nyuruh aku mati?” tanya Febby keras
“lho jadi kamu tadi di tengah jalan ngapain kalo bukan bunuh diri?” pria itu balik bertanya
Febbypun tersadar, kalau perbuatan dia tadi hampir mencelakai dirinya sendiri. Febbypun menangis dan menangis lagi
Pria itu tiba-tiba langsung berhadapan dengan Febby dan memegang kedua pundak Febby.
“liat mata aku, ayo liat !!! aku emang gak tau kamu siapa dan gak pernah kenal ataupun ketemu kamu sebelumnya. Tapi aku juga manusia, aku juga punya problem tapi pikiran aku gak sependek kamu. Okelah, kenalin aku Rendy, kalo kamu butuh temen cerita aku bisa kok. Tapi kamu jangan kek tadi lagi, bisa mati konyol kamu. Hidup ini indah kalo kamu nikmatin, tapi kalo kamu bawa susah ya ikut susah hidup kamu. Ini kartu nama aku, kalo kamu butuh temen cerita atau ada apa-apa hubungi aja aku” Seketika itu juga Rendy melepas jasnya dan memasangkannya ke Febby, dan Rendypun langsung berbalik hendak pulang.
Tiba-tiba saja Febby langsung berucap
“hidupku kacau, aku dipecat gara-gara kesalahan yang gak sama sekali aku perbuat” Tangisan Febbypun tambah hebat
Seketika itu Rendy langsung mengarah ke arah Febby lagi
“udah jangan nangis!!! Hahaha kamu itu lucu ya, dipecat aja sampe mau gila gini. Sebaiknya kalo mau cerita kita pindah tempat aja, gak enak tau diliatin orang,mana kamu nangis kenceng bener, disangka aku macem-macemin kamu lagi” kata Rendy
“antarin aku pulang” ucap Febby lemas
“mmm, okelah. Ayo masuk ke mobil aku” jawab singkat Rendy
Selama di perjalanan menuju rumah Febby, Febbypun menceritakan semua masalah yang tengah dihadapinya saat itu.
“Coba deh kamu liat kartu nama yang aku kasih tadi” ucap Rendy
Sembari Febby melihat kartu nama Rendy, Rendy langsung berbicara
“Aku manager di perusahaan tempatku bekerja, coba aja kamu ngelamar kerja di tempat aku, aku usahain deh biar kamu keterima”
“Makasih banyak ya, kamu udah repot-repot bantuin aku eh malah sekarang kamu nawarin kerjaan” jawab Febby dengan senyum manisnya
Akhirnya merekapun berpisah di depan rumah Febby.
*****
            Siang akhirnya berganti dengan malam, awan-awanpun diperindah oleh bulan dan bintang-bintang di sekelilingnya. Febby yang saat itu sedang mengamati langit dari jendela kamarnya.
“hahaha, lucu juga ya tuh cowok, aaagggghhhh kok aku jadi kebayang muka dia terus ya dari tadi, ganteng juga sih” Febby tersenyum-senyum
“sms, enggak, sms, enggak,sms, huh tapi kan malu kalo tiba-tiba aku sms dia, ihhhh udah deh  Febby ayo dong gak usah mikirin dia. Apa jangan-jangan gue ini..... agghhh oh no inget Febby dia itu baru kamu kenal” Ternyata hati Febby menyadari kalau dia tengah suka sama Rendy. Akhirnya dia palingkan pikirannya dengan menyiapkan berkas-berkas lamaran kerja untuk menyerahkannya di kantor Rendy.
            Di kejauhan sama, ternyata Rendy gak kalah gelisahnya dengan Febby. Rendypun  ternyata telah terpesona dengan sikap konyolnya Febby
“ih goblok bener sih aku, coba aku minta nomor hp dia tadi, gak ngasih kartu nama aja. Kan aku gak harus pusing-pusing gini sekarang kalo ada nomor hp dia”
*****
            Keesokan harinya Febby dengan optimisnya melamar kerjaan di kantor tempat Rendy bekerja. Tapi tak di sangka-sangka Rendy melihat Febby yang tengah mengajukan surat lamaran kerja. Rendy bukan menghampiri Febby, tapi dia langsung menghubungi staf yang mengurusi lowongan kerja dan lamaran kerja di perusahaan itu.
“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” kata staf tersebut
“Siang, Fer tadi saya liat ada wanita yang ngelamar kerja ya. Tolong langsung terima saja, jadiin dia sekretaris pribadi saya. Sekretaris pribadi saya yang lama kan udah mengundurkan diri pekan lalu” jelas Rendy
            Dan mulai saat itu Febby ternyata resmi menjadi sekretaris pribadi Rendy. Saat Febby memasuki ruangan Rendy, betapa terkejutnya Febby kalau ternyata dia menjadi sekretaris pribadinya Rendy.
“kamu?” kata Febby aneh
“Iya. Selamat bekerja di kantor ini, semoga kamu betah ya” jawab Rendy dengan senyuman yang semringah
*****
            Akhirnya, semenjak itu frekuensi pertemuan Febby dan Rendy bisa dikatakan sangat sering. Dan semenjak itu, hubungan mereka semakin dekat, bak bulan dengan bintang. Hari-hari mereka selalu dihiasi dengan kehangantan dan ditambah dengan romansa keromantisan Rendy kepada Febby. Mulai dari kejutan-kejutan sederhana yang selalu ia berikan kepada Febby setiap hari, kehangatan, kasih sayang, bahkan pengorbanan yang selalu Rendy berikan kepada Febby.
            Hingga suatu malam, Rendy mengajak Febby kesuatu tempat.
“kita mau kemana?” tanya Febby
“udah ngikut aja, aku mau ke tempat yang pastinya kamu suka” jawab Rendy
Saat mereka telah sampai ke tempat tujuan, Rendypun langsung menutup kedua mata Febby dengan tangannya
“kok ditutup mata aku?” tanya Febby
“gak suprise dong kalo gak ditutup matanya” jawab Rendy sambil tersenyum
“Aku itung sampe tiga ya baru aku bukain mata kamu. Satu,,, dua,,, tiiiiiiiggaaa,,,,” kata Fendy bersemangat
“waw, indah banget. Makasih ya Ren, aku suka banget, kamu yang nyiapin semua ini?” tanya Febby penasaran
“iya dong” jawab Rendy sambil membanggakan dirinya
Ternyata Rendy mengajak Febby ke tepi pantai, yang di sana telah Rendy siapkan tempat makan yang sangat romantis dengan dihiasi lampu-lampu dan lampu dengan tulisan I LOVE U di pasir tepat di depan meja makan mereka. Yang menambahkan keromantisan saat itu, Rendy telah menyewa pemusik klasik untuk mengiringi kehangatan mereka malam itu.
Saat mereka tengah asyik-asyiknya menikmati santapan makan malam
“Febby?” panggil Rendy pelan                                       
“iya” jawab Febby dan Febbypun langsung memokuskan kearah Rendy
“mmm, seperti yang aku katakan dulu. Aku gak ingin mengucapkan beribu-ribu kata sayang kalo itu gak ada artinya, aku cuman ingin mengucapkan kalimat qabul dan janji nikah untukmu” kata Rendy serius
Seketika itu juga Rendy beranjak dari tempat duduk, dan duduk di pasir sambil berhadapan dengan Febby yang tengah duduk di kursi.
“Febbyku sayang, aku yakin kamu telah tau keseriusan aku. Jadi, apakah kamu bersedia menikah dan menjadi makmumku sayang?” kata Rendy sambil ia menunjukkan cincin kehadapan Febby
Seketika itu pula batin Febby gemetar. Ia tak menyangka kalau bisa secepat itu. Febby bingung bukan main saat itu. Dan tanpa ia prediksi ia mengeluarkan kalimat
“aku belum siap”
“apa lagi yang kamu tunggu? Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu, suami yang memberikan kebahagiaan sepenuhnya untukmu” Rendy berusaha meyakinkan
“Maafkan aku, tapi ini terlalu cepat. Maaf aku gak bisa” kata Febby ragu
Febbypun langsung beranjak dari tempat duduknya, dan ia berlari kencang menjauh dari Rendy. Iapun langsung naik taksi untuk pulang. Selama diperjalanan Febby terus saja menangis. Ia bingung dengan semuanya yang ia anggap terlalu cepat, tapi disisi lain ia tidak bisa berbohong kalau ia sangat dan amat mencintai Rendy.
            Di tempat lain  Rendy masih terdiam di tepi pantai. Ia masih tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Febby. Ia kesal, marah dan kecewa bukan main.
            Sesampainya di rumah, Febby langsung berbaring di kasurnya. Ia terus saja menangis dan menangis. Hingga pada akhirnya ia menyadari bahwa yang ia lakukan adalah kesalahan yang sangat fatal. Tapi tetap batin ia selalu bertanya-tanya ‘apakah Rendy benar tulus atau mengharapkan budinya terbalas?’ tapi saat Febby mengeluarkan semua foto dan kenangan bersama Rendy, ia baru sadar kalau Rendy benar tulus mencintai dia. Mungkin karena Febby terlalu letih menangis, akhirnya ia pingsan di kamarnya. Dan tak seorangpun tau kalau Febby pingsan.
*****
            Keesokan harinya saat di kantor. Febby langsung menemui Rendy.
“Ren aku mau ....” belum selesai Febby berbicara, Rendy langsung menyambar omongan Febby
“nanti siang kita ada meeting, siapkan semua berkas-berkas” Rendy berbicara dengan ketusnya dan tak mau menoleh ke arah Febby
Tapi Febby tak menghiraukan semua itu
“aku tau aku telah berbuat kesalahan yang sangat fatal. Maafkan aku Ren maaf” Febby langsung memegang lengan Rendy
“aku mau ...” saat Febby belum selesai berkata, Rendy langsung melepaskan tangan Febby dengan kasar dan mendorongnya ke lantai.
“udahlah, anggap aja kita gak pernah deket dan inget hubungan kita sebatas pekerjaan, gak lebih !!!” jawab Rendy sambil berjalan keluar ruangannya
Tapi dilain sisi Febby tengah meledak-ledak menangis dan merasakan pusing yang amat sangat di kepalanya saat itu. Hingga akhirnya lagi-lagi ia pingsan tanpa sepengetahuan Rendy.
            Hingga beberapa hari kemudian Febby memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Semenjak itu, ia tidak pernah sama sekali bertemu dengan Rendy lagi.
*****
            Satu bulan kemudian. Tiba-tiba saja Rendy dan  Serly yang tidak lain dan tidak bukan adalah sepupu Febby sendiri ke rumah Febby.
“ini undangan pertunangan kami” kata Rendy membuka pembicaraan
Febby yang tengah lemas menjadi tambah lemas mendengar perkataan Rendy saat itu.
“mmm, oh ya.  mmm Serly udah cerita banyak kok soal kalian mau tunangan, selamat ya. aku usahain dateng ke acara kalian” jawab Febby yang berusaha memberikan senyuman pada Rendy dan sepupunya itu.
Saat Rendy dan Serly pulang. Ia langsung terduduk di belakang pintu dengan kacaunya. Ia menangis dan menangis menggelegar. Ia tak menyangka kalau Rendy begitu cepat bisa melupakan dia dan bertunangan dengan sepupu Febby sendiri.
Sakit kepala yang ia derita kembali mencuat. Sehingga ia tidak tahan dengan sakitnya dan lagi-lagi ia pingsan.
*****
            Hari ini adalah hari pertunangan Rendy dan sepupunya. Akhirnya Febbypun menguatkan diri untuk hadir di acara yang amat menyakitkan baginya itu.
Saat Rendy tengah memasangkan cincin di jari manis sepupunya Febby itu.
Disudut sisi ruangan Febby tiba-tiba saja menangis. Rasanya ia sangat-sangat tidak rela kalau Rendy berdampingan dengan wanita lain dan memasangkan cincin yang tidak lain adalah cincin yang tidak jadi Rendy berikan saat Febby menolak pinangannya. Febby terus bertahan menahan rasa sakit, hingga ia merasa benar-benar tidak kuat akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
*****
            Beberapa hari kemudian tiba-tiba saja teman lama Rendy menemuinya di kantor.
“Hai bro, gimana pentunanganmu kemaren, lancar? Maaf ya aku gak bisa dateng, lagi diluar kota soalnya” kata teman lama Rendy
“yoi, gak papa. Ya lancar lah” jawab Rendy cuek
“aku tau kamu masih menyimpan segenggap cinta dan harapan buat Febby” kata teman Febby serius
“udah gak usah bawa-bawa dia!!” jawab Rendy ketus
“ya ya Sorry. Aku ke sini cuman mau ngasiin nih surat, sorry baru sempet aku ke sini” kata teman Rendy sambil membanting surat yang terbungkus oleh amplop biru itu ke meja.
“ya udah aku balik ya. terserah deh mau kamu baca atau enggak. Tapi kalau ada apa-apa telpon aku aja” kata teman Rendy lagi sambil berbalik hendak pulang
            Saat teman Rendy telah pulang. Rendy masih terbujur kaku melihat surat yang terbungkus amplop biru yang masih sangat rapih itu di mejanya. Hingga pada akhirnya rasa penasarannyapun meledak dan ia putuskan untuk membaca surat itu.

Teruntuk
                                                                        Orang yang amat kucintai, Rendy
            Aku rindu dirimu, aku rindu kehangatanmu, aku rindu matamu yang sungguh meneduhkan hatiku, dan aku rindu saat-saat bersama denganmu.
Tapi sekarang kau dengan angkuhnya tak ingin lagi menoleh kearahku, dan dengan egomu aku tak diizinkan untuk berbicara sepatah katapun.
Mungkin ini memang salahku. Dulu aku dengan mudahnya menolak pinangan darimu. Tapi apakah kau tau alasan utamaku mengatakan ‘aku belum siap’ karena aku masih meragukan cintamu.
Memang konyol kelihatannya, dengan pengorbananmu yang banyak dan amat besar, tapi aku masih meragukanmu. Tapi jujur, saat itu hatiku berkata ‘apakah kau tulus atau meminta balasan budimu’. Tapi ternyata aku memang bodoh, aku tak menyadari kalau kau sangat mencintaiku.
Tapi kau tau saat-saat aku menyadari kesalahanku, dan ingin menjelaskan semua padamu. Sikapmu malah berubah dingin padaku. Setiap kali aku ingin berkata selalu kau patahkan dengan kalimat yang amat mengecewakanku.
Dan kau tau aku sangat ingin menjelaskan kebodohanku yang telah aku perbuat dulu, dan aku sangat ingin berbicara hal penting tentang keadaanku saat itu.
Apakah kau menyadari tubuhku kian hari kian mengurus, dan apakah kau menyadari wajahku tidak cerah secerah bersamamu dulu malah pucat pasi yang sangat tidak enak dipandang? Dan ternyata dengan kejamnya aku divonis dokter mengidap penyakit ‘kanker otak stadium 3’
Tapi aku berusaha kuat menahan keganasan penyakitku ini karena ingin merebut kembali cintamu, aku tak ingin dirawat di rumah sakit karena aku takut kau akan cemas dengan keadaanku.
Tapi disaat aku benar-benar merasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhku, malah aku menerima undangan pertunanganmu dengan sepupuku sendiri.
Kau tau? Saat itu juga aku berdoa agar nyawaku ini cepat diambil.
Dan kau tau saat aku melihat kau bertukar cincin dengan wanita yang jelas-jelas itu bukan aku, aku cemburu bukan main, rasanya aku tidak rela kau memasangkan cincin di jari manis wanita itu.
Dan mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang meregang nyawa atau mungkin telah kembali ke hadapan sang Maha Kuasa.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa cita-cita terbesarku bukan mengejar karir atau harta tapi cita-cita terbesarku menjadi makmum disetiap sujudmu sayang. Tapi malah Tuhan berkehendak lain dengan takdirku.
Jadi, aku titip pesan
Jangan sesali perbuatanmu, karena mungkin memang kita tidak ditakdirkan berjodoh di dunia ini. Dan aku titip sepupuku. Jangan sekali-kali kau kecewakan dia seperti kau mengecewakanku dulu. Jaga dia baik-baik dan berikan cintamu yang utuh seperti kau memberi cintamu padaku dulu.
                                                                        Dari orang yang sangat mencintaimu
                                                                        Febby

            Saat itu juga tangisan Rendy meledak-ledak dan menyesali perbuatannya itu. Iapun langsung menelpon teman lamanya tadi
“dimana Febby?” Rendy langsung bertanya
“dia di rumah sakit umum, ruang ICU” kata temannya 
Lalu dengan tergesa-gesa Rendy langsung menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih.
*****
            Sesampainya di rumah sakit, Rendy  langsung berlari keruang dimana Febby dirawat. Saat Rendy melihat keadaan Febby yang sangat memprihatinkan dan dengan bantuan alat-alat medis yang telah terpasang di tubuh Febby. Dan keluarga Febbypun telah berkumpul di ruangan tersebut termasuk sepupunya Febby ‘Serly’. Rendy saat itu juga terpaku dan sangat bersalah dengan semua yang telah ia perbuat.
Rendy memegang tangan Febby yang sangat lemah itu
“sayang, maafin aku. Aku salah, aku bodoh, aku jahat sama kamu. Sayang bangun, ayo kasih senyuman manismu itu kepadaku lagi” Kata Rendy sambil menggoyang-goyang tubuh Febby
Saat Serly melihat pemandangan yang amat memilukan itu, dia hanya bisa terdiam dan terbujur kaku, karena dia memang tidak pernah tau kalau Febby dan Rendy saling mencintai.
Rendy terus dan terus menangis, hingga pada akhirnya Febbypun sadar
“Sayang, kamu udah sadar? Sayang maafin aku” Rendy kembali menangis
Febby dengan lemasnya berusaha memegang pipi Rendy
“kamu gak salah, aku yang salah. Jadi aku memang pantas seperti ini. Tapi apakah aku boleh meminta sesuatu untuk terakhir kalinya?” kata Febby lemas
“jangan kamu ngomong kek gitu. Seratus bahkan beribu-ribu kalipun akan aku turuti semua permintaan kamu sayang” kata Rendy
“Jika memang aku tidak ditakdirkan berjodoh denganmu, aku titip Serly. Jadikan ia halal untukmu agar Serly selalu menemani disetiap sujud panjangmu” ucap Febby lemas sambil memegang tangan Serly. Sedangkan Serly hanya terdiam dan tidak percaya dengan ucapan yang barusan keluar dari bibir mungil Febby
“dan jika memang aku tidak ditakdirkan menjadi makmum di setiap ibadahmu. Izinkan aku menjadi makmummu, kali ini saja.... ayo kita shalat” kata Febby
“sayanggggggg.... “ terasa sangat pedih Rendy mendengar kata-kata itu dari bibir mungil Febby
Merekapun akhirnya shalat berjamaah. Rendy dengan tegapnya menjadi imam dan Febby dengan lemahnya terbaring di kasur menjadi makmum. Sungguh sangat memilukan. Semua keluarga Febby termasuk Serly melihat Febby dan Rendy shalat berjamaah, semua menangis menyaksikannya. Saat Rendy dan Febby menunaikan ibadah, berdoa dan berzikir panjang. Tanpa satu orangpun menyadari bahwa Febby telah pergi dengan tenang menghadap Sang Pencipta.
Saat Rendy dan semua keluarga Febby tau kalau Febby telah tiada semuanya hanyut dalam tangisan yang mendalam.
“innalilahi wainna ilaihi rojiun, kau adalah wanita terbaik yang pernah dipertemukan Tuhan dalam hidupku” ucap Rendy sambil terus menangis
Hingga pada akhirnya Rendy berusaha ikhlas menerima kepergian Febby dan berusaha menjalani amanat untuk mencintai sepupu Febby seuntuhnya, dan menjadikan Serly halal baginya sebagai bukti cinta tulusnya untuk Febby.
The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar