Hari ini seperti biasa
mentari terbit di ufuk timur, yang menandakan hari baru telah dimulai.
Sang mentari memberikan senyumannya kepada setiap insan dan memberikan
kehangatan dari sudut ke sudut yang lain. Aku sedang
duduk di samping orang yang teramat aku sayangi “Ardi” yang seringku
panggil dengan sebutan “Ndi”. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang
menghampiri kami berdua. Aku mencoba mengamati wanita itu, dan terus
saja aku amati dalam-dalam. Hasilnya nihil. Aku tak mengenali wanita
itu.
“Hai Ardi, nih aku bawain makanan buat kamu.” kata wanita itu
dengan keakrabannya
“Mmmm...” Ardi tidak bisa berkata apa-apa,
tubuhnya langsung terlihat kaku, kedua matanya memcoba menatapku yang
seakan-akan ia meminta maaf kepadaku.
Sedangkan aku, aku hanya
terdiam. Berusaha sesekali mengamati gerak gerik wanita itu, saat
melihat tatapan Ardi, aku langsung menunduk. Aku tak kuat menahan
tatapan tajam darinya.
“Hei, kok diem aja sih Ardi? makan geh
makanannya, ini aku buat sendiri lho khusus buat kamu. nih aku suapin ya
ak.. ak... ak... ayo buka dong mulutnya” kata wanita itu sambil
menggoda Ardi.
Spontan aku langsung meninggalkan mereka berdua,
aku mencoba berlari sekencang mungkin dan aku menangis. Tiba-tiba di
samping kiriku terlihat sebuah mobil truck yang sedang melaju kencang
“AAAGGGGHHH................” aku menjerit, dan???
Aku
terbagun....
“Ternyata itu hanya mimpi, huh” kataku dalam hati
Aku
langsung memeluk erat boneka pemberian Ardi dan aku langsung menangis
sejadi-jadinya.
Aku melihat handphoneku, tampak 8 message dari
Ardi, belum sempat aku membuka message tersebut, Ardi telah menelponku
“Assalammu’alaikum”
salamku
“Wa’alaikum salam, kamu enggak apa-apakan Vanes? perasaan
aku tiba-tiba enggak enak, langsung kepikiran kamu terus” tanya Ardi
khawatir
“Lho kok Ndi bisa langsung khawatir gini sih saat aku
khawatir dengan dia karna mimpi itu” kataku dalam hati
“A...a...
aku enggak apa-apa kok” jawabku terbata-bata
“Bohong !!” Ardi
menjawab ketus
“Beneran kok aku ini enggak kenapa-kenapa, udah
enggak usah khawatir berlebihan gitu kamu, aku baik-baik aja kok” Aku
mencoba menenangkan Ardi
“Tapi aku tiba-tiba khawatir banget gini
sama kamu, tapi syukur deh kalo kamu emang beneran enggak kenapa-kenapa”
Ardi merasa sedikit lega
“Ya udah Ndi kamu siap-siap sekolah dulu
sana” kataku
“Iya sayang, owh ya, kamu jangan lupa sarapan lho”
Ardi mengingatkan
“Oke boss, kamu juga” jawabku simple
Akupun pergi ke sekolah seperti biasa. Tapi fikiranku bukan terfokuskan
dengan pelajaran tapi “Ardi” orang yang aku kasihi. Tanpa aku sadari
saat pelajaran kimia berlangsung, aku telah menghabiskan lima lembar
kertas untuk menggambar wajar Ardi.
“Hei Vanes, lo diliatin guru
tuh” kata Tiwi sahabatku
Aku langsung tersentak kaget, akupun
langsung memperhatikan pelajaran yang guru itu ajarkan.
“huh...
hampir aja ketauan” kataku dalam hati
Di sisi
lain, tampak sebuah kota yang cukup berkembang tempat Ardi bermukim.
Seperti yang teman-temanku ketahui lebih dari satu setengah tahun aku
pacaran jarak jauh dengan Ardi. Seperti halnya aku, Ardi juga saat ini
sedang bersekolah. Saat bel istirahat berbunyi “KRIIINGGGGG....” semua
siswa langsung keluar kelas, begitu juga dengan Ardi. Ia langsung duduk
di taman sekolah. Setibanya ia di sana, seorang wanita langsung
menghampirinya.
“Hai Ardi, sendirian aja nih” kata wanita itu
Ardi
hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Owh ya, nih aku bawain
makanan buat kamu” kata wanita itu lagi
“Makasih, tapi enggak
perlu repot-tepot gini lo” jawab Ardi
“Buat kamu enggak kenal kata
repot kok aku, ya udah nih dimakan Ardi, aku suapin ya ak... ak....
ak.... ayo dong dibuka mulutnya” wanita itu berusaha merayu Ardi
“Udah
gue bisa makan sendiri kok” jawab Ardi ketus. “maafin aku Vanes” Ardi
berkata dalam hati.
“Udah biarin aku suapin enggak apa-apa kok”
wanita itu mulai menggoda Ardi lagi
“Udah cukup !!!!, lo tu
cewek.. enggak sepantasnya lo kek gini” Ardi langsung menghidari wanita
itu, tapi sebelum Ardi pergi meninggalkan wanita itu ia sempat untuk
memperhatikan wajah wanita itu. Ardi mulai mengerutkan keningnya “siapa
dia? gue enggak pernah melihatnya sebelumnya” kata Ardi dalam hati.
Tepat pukul 13.30 semua sekolah membunyikan belnya yang menandakan
waktu pelajaran telah habis. Begitu pula dengan sekolahku dan sekolah
Ardi. Setibanya Aku di rumah, Ardi langsung menelponku.
“Vanes
maafin aku, maaf banget” kata Ardi gemetar
“Lho kok minta maaf?
kamu kan enggak ada salah apa-apa, kamu kenapa sayang?” kataku
“Tadi
ada seorang wanita yang berusaha merayuku, ta..ta..pi aku enggak
kemakan rayuan dia kok” Ardi berkata dengan ragu-ragu
“Ngerayu kek
mana? coba kamu pelan-pelan cerita, aku enggak bakal marah kok kalo
kamu jujur” kataku lagi
Ardi mulai perlahan-lahan menceritakan
semua yang dilakukan wanita itu dengannya.
Aku langsung tersentak
kagek. “kenapa persis dengan mimpiku? apa yang akan terjadi?” kataku
dalam hati, dan akupun mulai gelisah.
“Vanes?” Ardi menjerit dan
mencoba membangunkanku dari lamunan panjangku
“I..i..ya” Aku kaget
“Kamu
marah ya?” Ardi mulai ketakutan
“Ya enggak lah, tapi kamu enggak
kemakan benerankan rayuan dia?” kataku
“Iya enggak lah sayang”
kata Ardi mulai menenangkanku
“Aku boleh minta minta foto wanita
itu enggak?” kataku ragu
“Tapi aku enggak ada foto dia, tapi nanti
aku coba deh foto dia diam-diam, nanti aku langsung kirimin ke kamu deh
fotonya” kata Ardi
“Iya udah makasih ya Ndi” jawabku lagi
Seharian aku mengurung diri di kamar, hanya untuk memikirkan Ardi,
wanita itu dan mimpi itu. Apa yang sebenarnya terjadi? apakah ini semua
awal dari permasalahan? entahlah aku tak berani menerka-nerka. Tiba-tiba
saja handphoneku berbunyi dan bergetar. Tampak sebuah multimedia
message dari Ardi. Aku langsung cepat-cepat membukanya dan apa??, mataku
langsung melotot tajam dan berkaca-kaca. Handphoneku langsungku banting
ke sudut kiri tempat tidurku.
Aku langsung menangis
dan kelakuanku spontan seperti orang kesurupan. Aku sangat takut.
“AGGGHHHHH.....
itu wanita dimimpiku, kenapa bisa terjadi seperti ini?” aku menangis
sejadi-jadinya. Dengan ragu-ragu aku mencoba mengambil handphoneku lagi
dan melihat foto wanita itu lagi. Aku mulai mengamati foto itu. Foto itu
seperti hidup, foto wanita itu seperti tersenyum denganku tapi seperti
marah denganku, wajah wanita itu pucat. Aku semakin ketakutan, semua
barang dikamarku aku hamburkan dan aku menjerit-jerit.
Mamaku
mendengar jeritanku, mamaku langsung ke kamarku dan memelukku
“Kenapa
kamu nak?” tanya mamaku panik
Aku hanya terdiam dan terus
menangis, aku sangat takut
Malam telah datang,
saatnya aku untuk tidur dan beristirahat. Aku mencoba membaringkan
badanku di atas tempat tidur, mataku mulai terpejam dan aku terlelap.
“Serahkan
Ardi dengan gue, gue yang lebih pantas buat dia, bukan lo !!!” kata
wanita itu
“Enggak, gue enggak akan nyerahin dia buat lo, dia
milik gue” kataku sambil ketakutan
Wanita itu mendekat. Tangan
wanita itu memegang pisau.
“Serahkan Ardi dengan gue, atau lo akan
gue bunuh !!!” wanita itu mulai mengancamku
“Sekali enggak tetep
enggak !!!” jawabku
wanita itu semakin dekat denganku. Pisau di
tangannya seakan ingin menusukku, wanita itu mulai berlari ke arahku dan
pisau itu... pisau itu mengenai perutku
“AAGGGHHHHH....” dan...
Aku
terbangun...
Mama dan papaku telah tampak di hadapanku. Aku
langsung memeluk mamaku dan aku menangis.
“Mama Vanes takut, Vanes
takut banget..” aku berkata sambil memeluk erat mamaku.
“Kenapa
kamu nak? tenang ada mama sama papa kok di sini, kamu enggak bakal
kenapa-kenapa” kata mamaku mencoba menenangkanku
“Iya nak, papa
sama mama akan menjaga kamu, kamu yang tenang, coba kamu minum dulu”
kata papaku dan menawarkanku segelas air putih
Perlahan aku mulai
meminum air itu, dan aku sedikit lebih tenang.
Setiap aku tertidur, aku selalu memimpikan wanita itu, dan setiap
bangun tidur aku selalu menjerit ketakutan. Hari-hari mulai berlalu, dan
kelakuanku mulai tidak terkendali. Kelakuanku seperti orang gila.
Kadang menjerit, kadang menangis dan kadang tertawa tanpa sebab. Dari
sini aku mulai tidak melakukan aktivitas sehari-hariku seperti biasanya
lagi. Aku mulai jarang sekolah, dan aku mulai malas makan. Kegiatan
sehari-hariku hanyalah duduk di halaman belakang rumahku sambil memeluk
boneka dari Ardi, dan terkadang pula aku mengamuk tanpa sebab.
Orangtuaku sangat prihatin dengan musibah yang menimpaku, orangtuaku
bingung, sedih dan mereka tak tau harus berbuat apa. Suatu hari
Orangtuaku menelpon Ardi dan menceritakan semuanya.
“Assalammu’alaikum”
salam mamaku
“Wa’alaikum salam” jawab Ardi
Mamaku mulai
menangis
“Kenapa tante? Vanes enggak kenapa-kenapakan?, sudah
lebih dari dua minggu Vanes enggak ngasih kabar sama Ardi, kenapa
Vanes?” Ardi mulai panik
“Vanes... Vanes... sakit” Mamaku terus
menangis
“Sakit apa Vanes tante?” Ardi menambah panik
Mamaku
mulai perlahan menceritakan semua yang dialamiku sambil menangis dan
ketakutan.
“Tolong nak Ardi, jenguklah Vanes sebentar. Tante
enggak tau mau berbuat apa lagi, nanti tante akan mencoba berbicara
dengan orangtua nak Ardi perihal keberangkatan nak Ardi nanti” kata
mamaku
“Iya tante pasti Ardi ke sana kok, InsyaAllah lusa Ardi ke
sana.” jawab Ardi
Hari ini Ardi pergi ke
kotaku bersama orangtuanya, sedangkan keadaanku masih sama
‘Memprihatinkan’. Setibanya Ardi dan orangtuanya di rumahku. Aku
terkejut. Ardi berusaha mendekatiku.
“Berhenti, jangan dekati aku,
wanita itu... wanita itu....” aku mulai histeris
aku melihat
wanita itu di belakang Ardi.
Ardi masih tetap mendekatiku, dan
Ardi memelukku.
“Vanes ini aku Ardi, kenapa kamu kayak gini” Ardi
mulai menangis
Mama dan Papakupun begitu, mereka menangis
sejadi-jadinya. Sedangkan ayah dan ibu Ardi berusaha menenangkan
orangtuaku.
“Mbak sabar, ini cobaan, mbak harus kuat, mbak harus
bertahan demi Vanes” kata ibu Ardi kepada mamaku.
Aku semakin histeris, saat Ardi memelukku, Aku melihat wanita itu
sedang memegang pisau dan wanita itu ingin membunuhku, aku takut dan aku
sangat takut. Aku langsung lemas, gemetar, dan aku langsung pinsan.
“Vanes??
kenapa kamu??” Ardi semakin panik
Ardipun langsung membawaku ke
kamarku.
“Assalammu’alaikum” sapa tetanggaku ‘pak Rudi’
“Wa’alaikum
salam” sapa semua orang yang berada di rumahku, kecuali aku.
Papaku
langsung menuju pintu depan dan membukakan pintu.
“Oh pak Rudi,
silakan masuk pak” kata papaku
“Terima kasih pak” jawab pak Rudi
“Maaf
pak kalau saya lancang, saya ke sini membawa Kiyai, perkenalnya nama
bapak ini pak Aziz.
Maksud tujuan kami ke sini, kami ingin
membantu putri bapak Vanessa” kata pak Rudi
“Terima kasih pak,
bapak sudah memperhatikan anakku, langsung saja kita ke kamar anakku”
kata papaku
“Baiklah pak” kata pak Rudi
Merekapun langsung
menuju kamarku.
Saat Kiyai itu ‘pak Aziz’ sampai di
kamarku tersentak aku terbangun.
“Pergi kau.. pergi.....” Aku
ketakutan dan berusaha mengusir pak Aziz
Pak Aziz malah perlahan
mencoba mendekatiku dan membacakanku ayat suci Al-qur’an.
“Berhenti.....!!”
aku menjerit dan menutup telingaku
“Apa maksud kamu mengganggu
wanita ini?” kata pak Aziz
“Aku menginginkan Ardi” jawabku
Ardi
langsung tersentak kaget, dan ternyata yang berkata itu bukan aku,
wanita itu... wanita itu masuk ke diriku.
“Ardi bukan milikmu,
ingatlah kamu dan Ardi itu berbeda alam, kamu tak mungkin memiliki Ardi”
pak Aziz berusaha menasehati
“Tapi aku menginginkan dia,
bagaimanapun caranya Ardi harus menjadi milikku !!” wanita itu tetap
dengan pendiriannya, dan wanita itu mencekik leher pak Aziz
Pak
Aziz berusaha melepaskan cekikak wanita itu dan membacakan ayat suci
Al-qur’an lagi.
“Namamu siapa nak?” tanya pak Aziz
“Aku
Jenny” wanita itu menjawab, dan ia mulai melemas
“Kenapa kamu
sangat ingin memiliki Ardi?” pak Aziz mencoba bertanya lagi
“Ardi...
Ardi... sangat mirip dengan orang yang sangat aku cintai ‘Mikko’, aku
ingin hidup dengan Ardi, aku berusaha melakukan apa yang aku lakukan
dulu dengan Mikko, aku lakukan lagi dengan Ardi, seperti membuatkannya
makanan, memberikan perhatian yang lebih dengannya, dan berusaha
membuatnya tenang di dekatku, Ardi??? kamu ingat itu semua kan?? setiap
hari aku melakukan itu semua untukmu” wanita itu berusaha menjelaskan
Ardi
tersentak kaget, dan Ardi... Ardi langsung melemas dan terduduk
“Pak,
saya ingin melihat sosok asli wanita itu” Ardi berusaha berkata dengan
pak Aziz dengan hati-hati
“Baik bapak akan mencobanya” kata pak
Aziz
“Jenny tolong keluarlah dari diri Vanessa, Vanes tak tau
menau dengan urusanmu, tolong lepaskan dia” pak Aziz mulai berkata
kepada wanita itu
“Tidak aku menginginkan wanita ini MATI!!”
wanita itu berkata lagi
“Tidak tolong jangan bunuh Vanes, aku
sangat menyayanginya dan aku mencintainya, tolong jangan bunuh dia” Ardi
memohon sambil menangis
“Tolong jangan bunuh anakku, Vanessa
adalah satu-satunya harapan kami” kata mamaku
“Keluarlah kau dari
diri Vanessa..” kata pak Aziz
Pak Aziz mulai kembali membacakan
ayat suci Al-qur’an.
Aku.... aku... terbangun badanku terasa
sangat berat dan sangat sakit. Aku langsung memeluk mamaku.
Wanita
itu... wanita itupun langsung menunjukkan jati diri aslinya dihadapan
kami semua.
Aku dan Ardi tersentak kaget..
“Wanita itu.....”
aku dan Ardi berkata bersamaan
“Iya ini aku, aku yang selama ini
mengganggu kehidupan kalian berdua” kata wanita itu
“Tolong jangan
ganggu Vanes dengan Ardi lagi, mereka tak tau menau dengan urusanmu,
tenanglah kau Jenny di alammu, sayapun yakin orang yang engkau kasihi
‘Mikko’ pasti telah bahagia di sana, Ardi tidak mencintaimu, Ardi
hanyalah mencintai Vanessa, tak mungkin engkau mau memaksakan
kehendakmu, sedangkan engkau dan Ardi hidup di alam yang berbeda, coba
kau mengerti itu” kata pak Aziz berusaha mengingatkan wanita itu
“Baiklah,
kalau itu keinginan kalian, aku akan pergi dari kehidupan kalian, tapi
tolong tengoklah aku di pemakaman umum ‘kebun bunga’ dan doakan lah aku,
setelah itu, aku berjanji aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian
lagi” wanita itu berkata
“Baik jika itu kemauanmu, sekarang juga
kami akan menengokmu” kata pak Aziz
Aku, Ardi,
orangtuaku, orangtua Ardi, pak Rudi dan pak Azizpun segera pergi ke
pemakaman umum ‘kebun bunga’. Aku yang masih dihantui rasa takut
perlahan aku menyusuri pemakaman umum tersebut dengan Ardi yang
memegangiku terus, sepertinya ia takut kalau aku akan pinsan dan
terjatuh. Akhirnya... akhirnya... ketemu makam wanita itu ‘Jenny’. kami
langsung berdiri mengelilingi makam Jenny. Kami langsung berdoa yang
dipimpin oleh pak Aziz.
“Kekal dan bahagialah engkau Jenny di alam
sana” kata pak Aziz
kamipun langsung menaburi bunga di atas makam
Jenny.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, aku masih kaget
dengan apa yang telah aku alami dengan Ardi.
“Tenanglah Vanes,
Jenny tidak akan mengganggu kita lagi” Ardi berusaha menenangkanku
Tampak
dari kejauhan kami semua melihat Jenny di bawah pohon beringin di
pemakaman umum ‘kebun bunga’ itu, ia mengucapkan “TERIMA KASIH” dan ia
tersenyum.
Kami akhirnyapun pulang, semenjak
kejadian itu kehidupanku dengan Ardi tak pernah diganggu oleh Jenny
lagi. Akupun mulai melakukan aktivitas sehari-hariku dengan normal.
Setiap Ardi berkunjung ke kotaku, kami berdua selalu menyempatkan waktu
untuk menengok Jenny di makamnya. Hari-hariku dengan Ardi sekarang
layaknya seperti pasangan lainnya. Kami bahagia.... bahkan sangat
bahagia.... :-)
Dan selamat tinggal Jenny bahagialah engkau di
alammu.....
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar