Jumat, 02 Agustus 2013

Cerpen Seputih Hati Sebening Kasih (karya : Della Stefhanie P.R.)

Hari ini seperti biasa mentari terbit di ufuk timur, yang menandakan hari baru telah dimulai. Sang mentari memberikan senyumannya kepada setiap insan dan memberikan kehangatan dari sudut ke sudut yang lain.            Aku sedang duduk di samping orang yang teramat aku sayangi “Ardi” yang seringku panggil dengan sebutan “Ndi”. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menghampiri kami berdua. Aku mencoba mengamati wanita itu, dan terus saja aku amati dalam-dalam. Hasilnya nihil. Aku tak mengenali wanita itu.
“Hai Ardi, nih aku bawain makanan buat kamu.” kata wanita itu dengan keakrabannya
“Mmmm...” Ardi tidak bisa berkata apa-apa, tubuhnya langsung terlihat kaku, kedua matanya memcoba menatapku yang seakan-akan ia meminta maaf kepadaku.
Sedangkan aku, aku hanya terdiam. Berusaha sesekali mengamati gerak gerik wanita itu, saat melihat tatapan Ardi, aku langsung menunduk. Aku tak kuat menahan tatapan tajam darinya.
“Hei, kok diem aja sih Ardi? makan geh makanannya, ini aku buat sendiri lho khusus buat kamu. nih aku suapin ya ak.. ak... ak... ayo buka dong mulutnya” kata wanita itu sambil menggoda Ardi.
Spontan aku langsung meninggalkan mereka berdua, aku  mencoba berlari sekencang mungkin dan aku menangis. Tiba-tiba di samping kiriku terlihat sebuah mobil truck yang sedang melaju kencang “AAAGGGGHHH................” aku menjerit, dan???

Aku terbagun....
“Ternyata itu hanya mimpi, huh” kataku dalam hati
Aku langsung memeluk erat boneka pemberian Ardi dan aku langsung menangis sejadi-jadinya.
Aku melihat handphoneku, tampak 8 message dari Ardi, belum sempat aku membuka message tersebut, Ardi telah menelponku
“Assalammu’alaikum” salamku
“Wa’alaikum salam, kamu enggak apa-apakan Vanes? perasaan aku tiba-tiba enggak enak, langsung kepikiran kamu terus” tanya Ardi khawatir
“Lho kok Ndi bisa langsung khawatir gini sih saat aku khawatir dengan dia karna mimpi itu” kataku dalam hati
“A...a... aku enggak apa-apa kok” jawabku terbata-bata
“Bohong !!” Ardi menjawab ketus
“Beneran kok aku ini enggak kenapa-kenapa, udah enggak usah khawatir berlebihan gitu kamu, aku baik-baik aja kok” Aku mencoba menenangkan Ardi
“Tapi aku tiba-tiba khawatir banget gini sama kamu, tapi syukur deh kalo kamu emang beneran enggak kenapa-kenapa” Ardi merasa sedikit lega
“Ya udah Ndi kamu siap-siap sekolah dulu sana” kataku
“Iya sayang, owh ya, kamu jangan lupa sarapan lho” Ardi mengingatkan
“Oke boss, kamu juga” jawabku simple

            Akupun pergi ke sekolah seperti biasa. Tapi fikiranku bukan terfokuskan dengan pelajaran tapi “Ardi” orang yang aku kasihi. Tanpa aku sadari saat pelajaran kimia berlangsung, aku telah menghabiskan lima lembar kertas untuk menggambar wajar Ardi.
“Hei Vanes, lo diliatin guru tuh” kata Tiwi sahabatku
Aku langsung tersentak kaget, akupun langsung memperhatikan pelajaran yang guru itu ajarkan.
“huh... hampir aja ketauan” kataku dalam hati

            Di sisi lain, tampak sebuah kota yang cukup berkembang tempat Ardi bermukim. Seperti yang teman-temanku ketahui lebih dari satu setengah tahun aku pacaran jarak jauh dengan Ardi. Seperti halnya aku, Ardi juga saat ini sedang bersekolah. Saat bel istirahat berbunyi “KRIIINGGGGG....” semua siswa langsung keluar kelas, begitu juga dengan Ardi. Ia langsung duduk di taman sekolah. Setibanya ia di sana, seorang  wanita langsung menghampirinya.
“Hai Ardi, sendirian aja nih” kata wanita itu
Ardi hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Owh ya, nih aku bawain makanan buat kamu” kata wanita itu lagi
“Makasih, tapi enggak perlu repot-tepot gini lo” jawab Ardi
“Buat kamu enggak kenal kata repot kok aku, ya udah nih dimakan Ardi, aku suapin ya ak... ak.... ak.... ayo dong dibuka mulutnya” wanita itu berusaha merayu Ardi
“Udah gue bisa makan sendiri kok” jawab Ardi ketus. “maafin aku Vanes” Ardi berkata dalam hati.
“Udah biarin aku suapin enggak apa-apa kok” wanita itu mulai menggoda Ardi lagi
“Udah cukup !!!!, lo tu cewek.. enggak sepantasnya lo kek gini” Ardi langsung menghidari wanita itu, tapi sebelum Ardi pergi meninggalkan wanita itu ia sempat untuk memperhatikan wajah wanita itu. Ardi mulai mengerutkan keningnya “siapa dia? gue enggak pernah melihatnya sebelumnya” kata Ardi dalam hati.

            Tepat pukul 13.30 semua sekolah membunyikan belnya yang menandakan waktu pelajaran telah habis. Begitu pula dengan sekolahku dan sekolah Ardi. Setibanya Aku di rumah, Ardi langsung menelponku.
“Vanes maafin aku, maaf banget” kata Ardi gemetar
“Lho kok minta maaf? kamu kan enggak ada salah apa-apa, kamu kenapa sayang?” kataku
“Tadi ada seorang wanita yang berusaha merayuku, ta..ta..pi aku enggak kemakan rayuan dia kok” Ardi berkata dengan ragu-ragu
“Ngerayu kek mana? coba kamu pelan-pelan cerita, aku enggak bakal marah kok kalo kamu jujur” kataku lagi
Ardi mulai perlahan-lahan menceritakan semua yang dilakukan wanita itu dengannya.
Aku langsung tersentak kagek. “kenapa persis dengan mimpiku? apa yang akan terjadi?” kataku dalam hati, dan akupun mulai gelisah.
“Vanes?” Ardi menjerit dan mencoba membangunkanku dari lamunan panjangku
“I..i..ya” Aku kaget
“Kamu marah ya?” Ardi mulai ketakutan
“Ya enggak lah, tapi kamu enggak kemakan benerankan rayuan dia?” kataku
“Iya enggak lah sayang” kata Ardi mulai menenangkanku
“Aku boleh minta minta foto wanita itu enggak?” kataku ragu
“Tapi aku enggak ada foto dia, tapi nanti aku coba deh foto dia diam-diam, nanti aku langsung kirimin ke kamu deh fotonya” kata Ardi
“Iya udah makasih ya Ndi” jawabku lagi

            Seharian aku mengurung diri di kamar, hanya untuk memikirkan Ardi, wanita itu dan mimpi itu. Apa yang sebenarnya terjadi? apakah ini semua awal dari permasalahan? entahlah aku tak berani menerka-nerka. Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi dan bergetar. Tampak sebuah multimedia message dari Ardi. Aku langsung cepat-cepat membukanya dan apa??, mataku langsung melotot tajam dan berkaca-kaca. Handphoneku langsungku banting ke sudut kiri tempat tidurku.
            Aku langsung menangis dan kelakuanku spontan seperti orang kesurupan. Aku sangat takut.
“AGGGHHHHH..... itu wanita dimimpiku, kenapa bisa terjadi seperti ini?” aku menangis sejadi-jadinya. Dengan ragu-ragu aku mencoba mengambil handphoneku lagi dan melihat foto wanita itu lagi. Aku mulai mengamati foto itu. Foto itu seperti hidup, foto wanita itu seperti tersenyum denganku tapi seperti marah denganku, wajah wanita itu pucat. Aku semakin ketakutan, semua barang dikamarku aku hamburkan dan aku menjerit-jerit.
Mamaku mendengar jeritanku, mamaku langsung ke kamarku dan memelukku
“Kenapa kamu nak?” tanya mamaku panik
Aku hanya terdiam dan terus menangis, aku sangat takut

            Malam telah datang, saatnya aku untuk tidur dan beristirahat. Aku mencoba membaringkan badanku di atas tempat tidur, mataku mulai terpejam dan aku terlelap.
“Serahkan Ardi dengan gue, gue yang lebih pantas buat dia, bukan lo !!!” kata wanita itu
“Enggak, gue enggak akan nyerahin dia buat lo, dia milik gue” kataku sambil ketakutan
Wanita itu mendekat. Tangan wanita itu memegang pisau.
“Serahkan Ardi dengan gue, atau lo akan gue bunuh !!!” wanita itu mulai mengancamku
“Sekali enggak tetep enggak !!!” jawabku
wanita itu semakin dekat denganku. Pisau di tangannya seakan ingin menusukku, wanita itu mulai berlari ke arahku dan pisau itu... pisau itu mengenai perutku
“AAGGGHHHHH....” dan...

Aku terbangun...
Mama dan papaku telah tampak di hadapanku. Aku langsung memeluk mamaku dan aku menangis.
“Mama Vanes takut, Vanes takut banget..” aku berkata sambil memeluk erat mamaku.
“Kenapa kamu nak? tenang ada mama sama papa kok di sini, kamu enggak bakal kenapa-kenapa” kata mamaku mencoba menenangkanku
“Iya nak, papa sama mama akan menjaga kamu, kamu yang tenang, coba kamu minum dulu” kata papaku dan menawarkanku segelas air putih
Perlahan aku mulai meminum air itu, dan aku sedikit lebih tenang.

            Setiap aku tertidur, aku selalu memimpikan wanita itu, dan setiap bangun tidur aku selalu menjerit ketakutan. Hari-hari mulai berlalu, dan kelakuanku mulai tidak terkendali. Kelakuanku seperti orang gila. Kadang menjerit, kadang menangis dan kadang tertawa tanpa sebab. Dari sini aku mulai tidak melakukan aktivitas sehari-hariku seperti biasanya lagi. Aku mulai jarang sekolah, dan aku mulai malas makan. Kegiatan sehari-hariku hanyalah duduk di halaman belakang rumahku sambil memeluk boneka dari Ardi, dan terkadang pula aku mengamuk tanpa sebab.
            Orangtuaku sangat prihatin dengan musibah yang menimpaku, orangtuaku bingung, sedih dan mereka tak tau harus berbuat apa. Suatu hari Orangtuaku menelpon Ardi dan menceritakan semuanya.
“Assalammu’alaikum” salam mamaku
“Wa’alaikum salam” jawab Ardi
Mamaku mulai menangis
“Kenapa tante? Vanes enggak kenapa-kenapakan?, sudah lebih dari dua minggu Vanes enggak ngasih kabar sama Ardi, kenapa Vanes?” Ardi mulai panik
“Vanes... Vanes... sakit” Mamaku terus menangis
“Sakit apa Vanes tante?” Ardi menambah panik
Mamaku mulai perlahan menceritakan semua yang dialamiku sambil menangis dan ketakutan.
“Tolong nak Ardi, jenguklah Vanes sebentar. Tante enggak tau mau berbuat apa lagi, nanti tante akan mencoba berbicara dengan orangtua nak Ardi perihal keberangkatan nak Ardi nanti” kata mamaku
“Iya tante pasti Ardi ke sana kok, InsyaAllah lusa Ardi ke sana.” jawab Ardi

            Hari ini Ardi pergi ke kotaku bersama orangtuanya, sedangkan keadaanku masih sama ‘Memprihatinkan’. Setibanya Ardi dan orangtuanya di rumahku. Aku terkejut. Ardi berusaha mendekatiku.
“Berhenti, jangan dekati aku, wanita itu... wanita itu....” aku mulai histeris
aku melihat wanita itu di belakang Ardi.
Ardi masih tetap mendekatiku, dan Ardi memelukku.
“Vanes ini aku Ardi, kenapa kamu kayak gini” Ardi mulai menangis
Mama dan Papakupun begitu, mereka menangis sejadi-jadinya. Sedangkan ayah dan ibu Ardi berusaha menenangkan orangtuaku.
“Mbak sabar, ini cobaan, mbak harus kuat, mbak harus bertahan demi Vanes” kata ibu Ardi kepada mamaku.

            Aku semakin histeris, saat Ardi memelukku, Aku melihat wanita itu sedang memegang pisau dan wanita itu ingin membunuhku, aku takut dan aku sangat takut. Aku langsung lemas, gemetar, dan aku langsung pinsan.
“Vanes?? kenapa kamu??” Ardi semakin panik
Ardipun langsung membawaku ke kamarku.

“Assalammu’alaikum” sapa tetanggaku ‘pak Rudi’
“Wa’alaikum salam” sapa semua orang yang berada di rumahku, kecuali aku.
Papaku langsung menuju pintu depan dan membukakan pintu.
“Oh pak Rudi, silakan masuk pak” kata papaku
“Terima kasih pak” jawab pak Rudi
“Maaf pak kalau saya lancang, saya ke sini membawa Kiyai, perkenalnya nama bapak ini pak Aziz.
Maksud tujuan kami ke sini, kami ingin membantu putri bapak Vanessa” kata pak Rudi
“Terima kasih pak, bapak sudah memperhatikan anakku, langsung saja kita ke kamar anakku” kata papaku
“Baiklah pak” kata pak Rudi
Merekapun langsung menuju kamarku.
            Saat Kiyai itu ‘pak Aziz’ sampai di kamarku tersentak aku terbangun.
“Pergi kau.. pergi.....” Aku ketakutan dan berusaha mengusir pak Aziz
Pak Aziz malah perlahan mencoba mendekatiku dan membacakanku ayat suci Al-qur’an.
“Berhenti.....!!” aku menjerit dan menutup telingaku
“Apa maksud kamu mengganggu wanita ini?” kata pak Aziz
“Aku menginginkan Ardi” jawabku
Ardi langsung tersentak kaget, dan ternyata yang berkata itu bukan aku, wanita itu... wanita itu masuk ke diriku.
“Ardi bukan milikmu, ingatlah kamu dan Ardi itu berbeda alam, kamu tak mungkin memiliki Ardi” pak Aziz berusaha menasehati
“Tapi aku menginginkan dia, bagaimanapun caranya Ardi harus menjadi milikku !!” wanita itu tetap dengan pendiriannya, dan wanita itu mencekik leher pak Aziz
Pak Aziz berusaha melepaskan cekikak wanita itu dan membacakan ayat suci Al-qur’an lagi.
“Namamu siapa nak?” tanya pak Aziz
“Aku Jenny” wanita itu menjawab, dan ia mulai melemas
“Kenapa kamu sangat ingin memiliki Ardi?” pak Aziz mencoba bertanya lagi
“Ardi... Ardi... sangat mirip dengan orang yang sangat aku cintai ‘Mikko’, aku ingin hidup dengan Ardi, aku berusaha melakukan apa yang aku lakukan dulu dengan Mikko, aku lakukan lagi dengan Ardi, seperti membuatkannya makanan, memberikan perhatian yang lebih dengannya, dan berusaha membuatnya tenang di dekatku, Ardi??? kamu ingat itu semua kan?? setiap hari aku melakukan itu semua untukmu” wanita itu berusaha menjelaskan
Ardi tersentak kaget, dan Ardi... Ardi langsung melemas dan terduduk
“Pak, saya ingin melihat sosok asli wanita itu” Ardi berusaha berkata dengan pak Aziz dengan hati-hati
“Baik bapak akan mencobanya” kata pak Aziz
“Jenny tolong keluarlah dari diri Vanessa, Vanes tak tau menau dengan urusanmu, tolong lepaskan dia” pak Aziz mulai berkata kepada wanita itu
“Tidak aku menginginkan wanita ini MATI!!” wanita itu berkata lagi
“Tidak tolong jangan bunuh Vanes, aku sangat menyayanginya dan aku mencintainya, tolong jangan bunuh dia” Ardi memohon sambil menangis
“Tolong jangan bunuh anakku, Vanessa adalah satu-satunya harapan kami” kata mamaku
“Keluarlah kau dari diri Vanessa..” kata pak Aziz
Pak Aziz mulai kembali membacakan ayat suci Al-qur’an.
Aku.... aku... terbangun badanku terasa sangat berat dan sangat sakit. Aku langsung memeluk mamaku.
Wanita itu... wanita itupun langsung menunjukkan jati diri aslinya dihadapan kami semua.
Aku dan Ardi tersentak kaget..
“Wanita itu.....” aku dan Ardi berkata bersamaan
“Iya ini aku, aku yang selama ini mengganggu kehidupan kalian berdua” kata wanita itu
“Tolong jangan ganggu Vanes dengan Ardi lagi, mereka tak tau menau dengan urusanmu, tenanglah kau Jenny di alammu, sayapun yakin orang yang engkau kasihi ‘Mikko’ pasti telah bahagia di sana, Ardi tidak mencintaimu, Ardi hanyalah mencintai Vanessa, tak mungkin engkau mau memaksakan kehendakmu, sedangkan engkau dan Ardi hidup di alam yang berbeda, coba kau mengerti itu” kata pak Aziz berusaha mengingatkan wanita itu
“Baiklah, kalau itu keinginan kalian, aku akan pergi dari kehidupan kalian, tapi tolong tengoklah aku di pemakaman umum ‘kebun bunga’ dan doakan lah aku, setelah itu, aku berjanji aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi” wanita itu berkata
“Baik jika itu kemauanmu, sekarang juga kami akan menengokmu” kata pak Aziz

            Aku, Ardi, orangtuaku, orangtua Ardi, pak Rudi dan pak Azizpun segera pergi ke pemakaman umum ‘kebun bunga’. Aku yang masih dihantui rasa takut perlahan aku menyusuri pemakaman umum tersebut dengan Ardi yang memegangiku terus, sepertinya ia takut kalau aku akan pinsan dan terjatuh. Akhirnya... akhirnya... ketemu makam wanita itu ‘Jenny’. kami langsung berdiri mengelilingi makam Jenny. Kami langsung berdoa yang dipimpin oleh pak Aziz.
“Kekal dan bahagialah engkau Jenny di alam sana” kata pak Aziz
kamipun langsung menaburi bunga di atas makam Jenny.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, aku masih kaget dengan apa yang telah aku alami dengan Ardi.
“Tenanglah Vanes, Jenny tidak akan mengganggu kita lagi” Ardi berusaha menenangkanku
Tampak dari kejauhan kami semua melihat Jenny di bawah pohon beringin di pemakaman umum ‘kebun bunga’ itu, ia mengucapkan “TERIMA KASIH” dan ia tersenyum.

            Kami akhirnyapun pulang, semenjak kejadian itu kehidupanku dengan Ardi tak pernah diganggu oleh Jenny lagi. Akupun mulai melakukan aktivitas sehari-hariku dengan normal. Setiap Ardi berkunjung ke kotaku, kami berdua selalu menyempatkan waktu untuk menengok Jenny di makamnya. Hari-hariku dengan Ardi sekarang layaknya seperti pasangan lainnya. Kami bahagia.... bahkan sangat bahagia.... :-)
Dan selamat tinggal Jenny bahagialah engkau di alammu.....

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar